Kediri, Lombok Barat — Palang Merah Remaja (PMR) WIRA Unit MAS Putri Al-Ishlahuddiny Kediri menggelar aksi penggalangan donasi bagi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Ahad–Senin, 23–24 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri dengan melibatkan santri dan dewan guru sebagai sasaran sekaligus bagian dari gerakan solidaritas kemanusiaan.
Kegiatan penggalangan donasi ini merupakan bagian dari Program Kerja Bidang Kesiapsiagaan Bencana PMR-WIRA Unit MAS Putri Al-Ishlahuddiny. Program tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi fungsi PMR dalam membangun kapasitas remaja agar memiliki kepedulian, kesiapsiagaan, serta kemampuan merespons persoalan kemanusiaan dan kebencanaan di lingkungan sekitarnya.
Pelaksanaan kegiatan selama dua hari dilakukan dengan mengoptimalkan lingkungan pesantren sebagai ruang edukasi sekaligus ruang partisipasi sosial. Para anggota PMR secara aktif mengajak santri dan dewan guru untuk berkontribusi melalui donasi sukarela. Pola penggalangan tersebut menempatkan kegiatan bukan semata sebagai aktivitas penghimpunan dana, melainkan sebagai sarana membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya solidaritas terhadap masyarakat yang terdampak bencana.
Dari kegiatan tersebut, donasi yang berhasil dihimpun mencapai nominal jutaan rupiah. Capaian tersebut menjadi indikator adanya respons positif dari warga Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny terhadap inisiatif kemanusiaan yang digerakkan oleh para pelajar melalui organisasi PMR.
Secara pedagogis, keterlibatan peserta didik dalam kegiatan kemanusiaan memberikan pengalaman belajar yang bersifat kontekstual. Nilai kepalangmerahan seperti kemanusiaan, kesukarelaan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi diterjemahkan ke dalam tindakan yang dapat dirasakan secara langsung oleh lingkungan sosial.
Dalam konteks kesiapsiagaan bencana, kegiatan tersebut juga memiliki dimensi edukatif. Kesiapsiagaan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi bencana secara teknis, tetapi mencakup kesiapan psikologis dan sosial untuk merespons penderitaan serta kebutuhan masyarakat ketika bencana terjadi. Oleh karena itu, aktivitas penggalangan donasi dapat menjadi media pembelajaran bagi anggota PMR untuk memahami dimensi kemanusiaan dalam penanggulangan bencana.

Kepala MAS Putri Al-Ishlahuddiny Kediri, Ustadz Khaeroza Ihsanadi, S.Pd menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya terhadap perkembangan PMR WIRA di madrasah tersebut. Menurutnya, usia organisasi yang relatif muda tidak menjadi penghalang bagi para anggota untuk menunjukkan kontribusi nyata dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
“Sejujurnya, PMR di MAS Putri Al-Ishlahuddiny ini belum genap berusia satu tahun. Namun, dalam waktu yang relatif singkat, anak-anak sudah mampu menunjukkan perkembangan yang sangat baik, baik dari sisi organisasi maupun keberanian mereka untuk terlibat langsung dalam kegiatan sosial. Penggalangan donasi ini menjadi bukti bahwa mereka tidak hanya belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan, tetapi mulai menghidupinya melalui tindakan nyata. Saya berharap semangat ini terus tumbuh sehingga mereka dapat menjadi inspirasi bagi teman-temannya dan mampu menularkan budaya kepedulian, kesukarelaan, serta kemanusiaan, baik di lingkungan madrasah maupun di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberadaan PMR di lingkungan madrasah memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar organisasi ekstrakurikuler. PMR dapat menjadi ruang pembentukan karakter melalui pengalaman langsung, terutama dalam mengembangkan empati, kepedulian sosial, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, dan tanggung jawab terhadap sesama.
Bagi para anggota PMR, pengalaman mengorganisasi kegiatan penggalangan donasi juga menjadi proses pembelajaran mengenai bagaimana sebuah aksi kemanusiaan direncanakan, dikomunikasikan, dan dilaksanakan secara kolektif. Proses tersebut sekaligus melatih kemampuan organisasi dan komunikasi interpersonal yang relevan dengan kebutuhan remaja dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.
Lingkungan Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri turut memberikan konteks penting dalam kegiatan tersebut. Pesantren tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pendidikan keagamaan dan akademik, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter sosial. Melalui kegiatan kemanusiaan, nilai kepedulian terhadap sesama dapat dipraktikkan secara konkret dan menjadi bagian dari budaya kehidupan santri.
Penggalangan donasi untuk korban gempa NTT pada akhirnya tidak hanya menghasilkan bantuan dalam bentuk materi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menghasilkan proses pendidikan sosial yang mempertemukan nilai, pengetahuan, dan tindakan. Para anggota PMR belajar bahwa kepedulian terhadap korban bencana dapat diwujudkan melalui kontribusi nyata, meskipun dimulai dari lingkungan yang kecil.
Kegiatan ini juga menjadi penanda penting bagi perjalanan PMR WIRA Unit MAS Putri Al-Ishlahuddiny yang masih berada pada tahap awal pengembangan organisasi. Aktivitas sosial yang telah dilakukan menunjukkan adanya potensi besar untuk mengembangkan PMR sebagai wadah pembinaan remaja yang aktif, responsif, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.
Ke depan, Program Kerja Bidang Kesiapsiagaan Bencana diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penggalangan donasi. Program tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, pelatihan pertolongan pertama, pengenalan risiko bencana, kampanye kesiapsiagaan, serta kegiatan sosial lainnya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui langkah tersebut, PMR WIRA Unit MAS Putri Al-Ishlahuddiny tidak hanya mempersiapkan anggotanya untuk siap menghadapi bencana, tetapi juga membentuk generasi muda yang siap peduli, siap membantu, dan siap hadir bagi sesama ketika kemanusiaan membutuhkan uluran tangan.
Dari madrasah, kepedulian ditanamkan. Dari PMR, kemanusiaan diwujudkan melalui tindakan.
Kontributor : Pd. Jaya