Mataram, NTB — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lombok Barat turut berpartisipasi dalam kegiatan Pelatihan Pertolongan Pertama (PP)–SAR Darat Nasional (SARDATNAS) ke-VII yang diselenggarakan oleh Korps Sukarela (KSR)-PMI Unit Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Kegiatan tersebut dipusatkan di Kampus II UIN Mataram dan kawasan Hutan Lindung Sesaot, Lombok Barat, sebagai ruang pembelajaran sekaligus penguatan kapasitas relawan dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan dan kebencanaan.
Partisipasi PMI Kabupaten Lombok Barat dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring kelembagaan dan kompetensi sumber daya manusia bidang kemanusiaan. Dalam forum tersebut, PMI Lombok Barat hadir bersama unsur PMI lainnya, pemerintah daerah, lembaga kebencanaan, aparat keamanan, perguruan tinggi, serta para peserta pelatihan dari berbagai daerah. Keterlibatan lintas sektor ini menunjukkan bahwa penanggulangan bencana membutuhkan kerja kolaboratif yang melampaui batas kelembagaan.

Dalam sambutan Plt. PMI Provinsi Nusa Tenggara Barat, bapak NS. H. Lalu R. Doddy Setiawan, SH., MH. Mengatakan bahwasanya, penyelenggaraan PP-SARDATNAS VII diapresiasi sebagai bentuk ikhtiar KSR-PMI Unit UIN Mataram dalam memperkuat kapasitas relawan. Pelatihan juga dipandang sebagai momentum membangun silaturahmi dan jejaring antarsesama insan kepalangmerahan, sekaligus memperkuat sinergi PMI dengan pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menjalankan mandat kemanusiaan.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah karakteristik wilayah Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi. Perwakilan Pemerintah Provinsi NTB dalam sambutannya menegaskan bahwa bencana dapat terjadi tanpa dapat dipastikan secara tepat mengenai waktu dan lokasinya. Karena itu, kesiapsiagaan, kecepatan respons, koordinasi lintas sektor, serta penguatan kemampuan pertolongan pertama dan pencarian serta penyelamatan harus ditempatkan sebagai bagian dari budaya masyarakat.
Pengalaman penanganan bencana gempa di Nusa Tenggara Timur yang disampaikan dalam forum tersebut turut memperlihatkan pentingnya keberadaan relawan terlatih pada fase awal kedaruratan. Kondisi pascabencana dapat menyebabkan terganggunya berbagai layanan dasar, mulai dari penerangan, komunikasi, hingga akses terhadap kebutuhan masyarakat. Dalam situasi semacam itu, relawan memiliki posisi strategis untuk hadir membantu masyarakat terdampak ketika kondisi masih penuh kepanikan dan ketidakpastian.
Karena itu, kompetensi pertolongan pertama dan SAR tidak cukup dipahami sebagai seperangkat keterampilan teknis. Kompetensi tersebut harus disertai kemampuan mengambil keputusan dalam tekanan, kedisiplinan, kerja tim, serta pemahaman terhadap prinsip keselamatan. Pesan utama yang mengemuka dalam sambutan kegiatan adalah bahwa seorang relawan harus mampu memberikan pertolongan tanpa menempatkan dirinya sebagai korban berikutnya.

Aspek keselamatan tersebut menjadi prinsip fundamental dalam operasi kemanusiaan. Dalam konteks pertolongan pertama maupun pencarian dan penyelamatan, keberhasilan intervensi tidak hanya ditentukan oleh kecepatan bertindak, tetapi juga oleh ketepatan prosedur, penilaian risiko, koordinasi tim, dan kemampuan memastikan keamanan penolong serta korban.
Kegiatan PP-SARDATNAS VII juga menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu aktor penting dalam ekosistem kesiapsiagaan bencana. Dalam sambutan Gubernur NTB yang diwakili oleh kepala BPBD Provinsi NTB, Bapak Sadimin, ST., MT, UIN Mataram diapresiasi karena memberikan ruang bagi kegiatan yang mengintegrasikan pendidikan, pengabdian, kepedulian sosial, karakter kemanusiaan, dan kesiapsiagaan bencana. Mahasiswa dipandang memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai relawan sekaligus calon pemimpin dalam penanggulangan bencana di masa mendatang.
Lebih jauh, kegiatan tersebut menegaskan bahwa semangat kemanusiaan harus berjalan beriringan dengan kompetensi. Relawan tidak cukup hanya memiliki keinginan untuk membantu, tetapi membutuhkan pengetahuan, keterampilan teknis, disiplin, kemampuan bekerja dalam tim, serta kecakapan mengambil keputusan dalam kondisi bertekanan. Dengan demikian, pelatihan menjadi instrumen penting untuk memastikan semangat kerelawanan dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang aman, efektif, dan bertanggung jawab.
Dalam forum tersebut juga ditekankan pentingnya keberlanjutan pembelajaran setelah pelatihan berakhir. Peserta didorong untuk menjadi agen edukasi dan penggerak kesiapsiagaan di lingkungan masing-masing, sekaligus membangun jaringan solidaritas antarelawan. Hal tersebut didasarkan pada pemahaman bahwa ketika bencana terjadi, kekuatan utama tidak hanya berada pada kemampuan individu, tetapi pada kapasitas kolektif sebuah tim yang solid dan terkoordinasi.
Dari perspektif kepalangmerahan, partisipasi PMI Kabupaten Lombok Barat dalam PP-SARDATNAS VII memiliki arti strategis karena memperluas ruang pertukaran pengalaman dan memperkuat konektivitas antarsumber daya kemanusiaan. Jejaring tersebut menjadi modal sosial penting dalam membangun sistem respons bencana yang lebih terintegrasi, terutama ketika kondisi kedaruratan membutuhkan mobilisasi personel, keterampilan, logistik, dan koordinasi secara cepat.
Sementara itu, Wakil Rektor I UIN Mataram menempatkan kegiatan tersebut dalam kerangka pengabdian kepada masyarakat. Ia menilai bahwa pengabdian tidak berhenti pada wacana, melainkan membutuhkan individu yang benar-benar bersedia hadir dan memberikan manfaat tanpa membatasi diri berdasarkan latar belakang sosial maupun identitas. Dalam konteks kemanusiaan, kepedulian seharusnya berangkat dari kesadaran bahwa setiap orang yang terdampak bencana adalah manusia yang membutuhkan pertolongan.
Pandangan tersebut memperluas makna dari PP-SARDATNAS VII dari sekadar pelatihan teknis menjadi ruang pembentukan karakter relawan. Pengalaman belajar, praktik, dan interaksi antarpeserta diharapkan membangun kesadaran bahwa kerja kemanusiaan menuntut ketulusan, solidaritas, kompetensi, dan kesiapan untuk hadir ketika masyarakat berada dalam kondisi paling rentan.
Dengan berlangsungnya PP-SARDATNAS VII di Kampus II UIN Mataram dan kawasan Hutan Lindung Sesaot, kegiatan ini sekaligus mempertemukan lingkungan akademik dengan konteks lapangan yang menuntut kesiapan fisik, mental, teknis, dan sosial. Keterlibatan PMI Kabupaten Lombok Barat menjadi bagian dari proses membangun ekosistem relawan yang lebih terampil dan terhubung.
Pada akhirnya, pelatihan ini membawa pesan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak boleh dibangun setelah bencana terjadi. Ia harus dipersiapkan jauh sebelumnya melalui pendidikan, latihan, jejaring, simulasi, dan penguatan kapasitas manusia. Sebab, ketika situasi darurat datang, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang bersedia membantu, tetapi orang yang siap, terlatih, mampu bekerja dalam tim, dan dapat memberikan pertolongan secara aman.
Melalui partisipasi dalam SARDATNAS VII, PMI Kabupaten Lombok Barat turut mengambil bagian dalam proses tersebut: memperkuat kompetensi, memperluas jejaring, dan meneguhkan kembali bahwa kerja kemanusiaan membutuhkan kesiapan yang dibangun secara berkelanjutan. Karena dalam kebencanaan, kesiapan bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
Kontributor: Pd. Jaya